
adalah kunci
pada sebuah kamar yang dipenuhi hujan
segala didingnya dirembesi ratap gelisah
ijinkan aku berlama-lama; sebab banyak rindu yang ingin kuhanyutkan....
hanya tangan kecil yang ingin belajar memainkan pena
tergantung di sudut-sudut jalan
antara janji dan pembuktian
datang dengan lagu lama yang diaransemen ulang
antara romantisme dan kepahitan
engkau meminta pil ekstasi untuk kembali berpesta
atau untuk ikut nimbrung berpesta
pesta kata dan perdebatan.....
engkau ketagihan dengan pil itu
sampai aku tak mampu menolak untuk memberimu
kusuap tepat disenyummu
hingga engkau kembali teler
dan melupakan senyummu padaku
senyum yang tergantung di sudut-sudut jalan itu
dipuja-puji
bak titisan Smith, Say, ataupun Ricardo
oracle, maestro, dan
engkau adalah malaikat yang akan menebar kemakmuran di jagad
Ronald Reagen, Bush tua, sampai Clinton dan Bush muda
tunduk oleh jampi-jampimu
Afganistan, Irak, pun tlah mendapat kutukanmu
SBY, Sri Mulyani, Marie Pangestu,
Boediono, dan para dosen ekonomi UI adalah para pengikutmu
yang tunduk dan membebek dari setiap fatwamu
kini bubble-mu tlah pecah
mengambrukkan Dow Jones, Nasdaq, Nikkei, Hang Seng, Kospi,
dan IHSG yang dibanggakan SBY
hancurlah bursa-bursa
tergeletak bersama ekspektasi akan kemakmuran
berhamburan bersama para pekerja yang diusir keluar pabrik dan perkantoran
kini semua tlah berpaling darimu maestro...
Fukuyama pun membasikan ajaranmu
semua melirik Stiglitz dan Krugman
mendaulatnya sebagai dukun baru
selamat jalan maestro,
bacakan sekali ini mantra-mantramu;
laissez faire laissez paser,
le monde va de luimeme
wahai anakku…
di setiap bulir nasi yang kau kecap
ada simbah peluh para petani
yang menggantung nasibnya di setiap musim
wahai anakku…
di setiap cabit ikan yang kau kecap
ada simbah peluh para nelayan
yang mengadu nasib menantang ombak
wahai anakku…
di setiap rupiah yang kuberi untuk nasi dan ikan
ada cinta dan harapan bunda untukmu
agar engkau jadi anak yang bijak
dalam memaknai setiap rahasia Ilahi